Kamis, 26 Januari 2012

Masa Bakar Kantor Bupati Bima

Mataram - Aksi ribuan warga kecamatan Lambu, Sape, dan Langudu, Kabupaten Bima, NTB, Kamis (26/1/2012) berakhir rusuh. Massa aksi membakar kantor Bupati Bima dan Kantor Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Bima di jalan Soekarno Hatta, hingga ludes. Belum diketahui apakah ada korban jiwa atau tidak dalam aksi ini.

Semula, aksi puluhan ribu warga itu hanya berniat menduduki kantor Bupati Bima. Namun warga mulai marah, ketika kedatangan mereka dihadang aparat kepolisian dan Polisi Pamong Praja. Massa aksi lalu mendobrak gerbang kantor Bupati dan menerobos masuk. Warga mengamuk, dan mulai membakar kantor.

Informasi yang dihimpun detikcom, massa aksi datang selepas dzuhur. Mereka datang bergelombang. Semula aksi hanya diikuti sedikitnya 400 orang. Selang 30 menit kemudian, sedikitnya seribu orang massa aksi datang bergabung menggunakan sepeda motor.

Massa aksi yang lebih besar rupanya berkumpul di Lapangan Umum dekat Rumah Sakit Daerah Bima, satu kilometer dari Kantor Bupati. Massa aksi lalu long march dari lapangan menuju kantor bupati. Keributan tak terhindarkan setelah puluhan ribu massa aksi merasa dihalangi aparat kepolisian.

Selang satu jam, massa aksi mengamuk, dan mulai membakar kantor bupati, dan juga kantor KPUD Bima yang letaknya bersebelahan. Api berkobar cepat, ditunjang pula dengan hembusan angina kencang.

Idrus, seorang saksi mata yang dihubungi detikcom mengatakan, api masih berkobar hebat. Namun kantor Bupati Bima sudah ludes. Atapnya sudah ambruk.

"Jarak pandang kita sekarang terbatas. Soalnya asap hitam pekat. Dari jauh asap hitam terlihat, karena membumbung tinggi sekali," katanya.

Belum didapat apakah ada korban jiwa dalam aksi pembakaran ini. Namun pembakaran terjadi saat kantor tengah memasuki jam istirahat.

Informasi lain menyebutkan, aparat kepolisian dan pol PP turut berlari menyelamatkan diri, saat aksi pembakaran dilakukan.

sumber: http://www.detiknews.com/read/2012/01/26/134436/1825739/10/ribuan-warga-bima-ngamuk-bakar-kantor-bupati

Rabu, 25 Januari 2012

Yulianis Jelaskan Modus Bisnis Nazaruddin

Nazaruddin memakai nama pegawainya dalam akte perusahaan.

VIVAnews - Yulianis, mantan Wakil Direktur Keuangan Permai Grup mengungkap modus Muhammad Nazaruddin dalam mengelola bisnis. Menurutnya, mantan bosnya itu memerintahkan pegawainya untuk menggunakan nama-nama mereka untuk dicantumkan di akte perusahaan.

"Kalau kami tidak mau gaji kami dipotong, Supervisor ke atas dipotong 1 juta, staf dipotong 500 ribu," kata Yulianis di pengadilan Tipikor, Jakarta. Rabu, 25 Januari 2012.

Hal itu diketahuinya karena saat menjabat Wakil Direktur Keuangan, Ia diperintah secara lisan oleh Nazaruddin untuk memotong gaji pegawai yang tidak mau menjadi pengurus di perusahaannya.

Ia menambahkan, kebijakan tersebut bukanlah tanpa penolakan. Sejumlah karyawan lanjut Yulianis sempat demo atas kebijakan tersebut, bahkan ada yang memutuskan untuk keluar kerja daripada dipakai namanya sebagai pengurus perusahaan. 
"Akhirnya ada yang resign dan ada yang mau dipotong gajinya," katanya.

"Itu modusnya pak Nazar seperti itu, dia gak mau namanya di pakai. Karena beliau akan menjadi anggota DPR tahun 2009, Neneng juga namanya dihilangkan dari akte, Nasir juga. Jadi yang namanya ada di akte itu lebih banyak Pak Hasyim," ujarnya.

"Saya berpesan pada teman-teman saya jangan takut nama kalian dipakai. Itu konsekuensi dari legal hukum ada di kalian, jangan takut bicara," katanya lagi.
Sementara mengenai kehadiran Wakil Gubernur Jawa Barat, Dede Yusuf, saat berlangsung rapat yang dihadiri jajaran Direksi Permai Grup di rumah Nazaruddin, Yulianis menegaskan bahwa ia tidak mengetahuinya dengan jelas.

"Saya tidak tahu (maksud kedatangannya). Tapi pas saya datang itu pak Dede dan Bertha lagi bicara di ruang tamu," kata Yulianis.

Bertha lanjut Yulianis merupakan notaris yang mengurus akte perusahaan Nazaruddin sekaligus fungsionaris Partai Demokrat.

Menurut Yulianis, saat masuk ke dalam ruang keluarga, Ia mendapati Nazaruddin menemui Dede Yusuf untuk membicarakan sesuatu. Namun ia mambantah mengetahui isi pertemuan tersebut.

"Saya cuma dengar pak Nazar mau bicara dengan Dede dan Bertha, sebentar lagi meeting dengan kami," ujarnya.

Sumber:http://nasional.vivanews.com/news/read/282923-yulianis-jelaskan-modus-bisnis-nazaruddin

Jumat, 20 Januari 2012

Menelusuri Jejak Mahapati Gajah Mada di Pulau Sumba

maxfm-waingapu.net - Tidak mengherankan apabila kita menemukan deretan nama di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mirip atau sama dengan nama-nama jawa zaman Majapahit. Nama orang, gelar, nama benda dan berbagai hal, termasuk bentuk rumah (sumba), alat senjata, alat kerawitan dan beberapa upacara ritus.

D.K. Kolit dalam pengaruh Majapahit Atas Kebudayaan Nusa Tenggara Timur menyebutkan sederetan nama di NTT yang mempunyai kaitan dengan nama-nama Jawa (Majapahit). Umpamanya, Jawa, Gajah Mada, Bata, jati, Giri, Pati Gela, Nala, Bako, Dewa, Paji, Demang, Rangga, Sima, Leko, Dara, Wonga(1982:48).

Tidak adanya pencatat sejarah di NTT menyebabkan hilangnya peristiwa bersejarah masa lalu. Misalnya beberapa nama pahlawan Sumba yang gigih menentang kolonial Belanda sulit dilacak kisahnya. Sebut saja Umbu Rara Meha di Sumba Timur, Umbu Tagela Bani, Lelu Atu dan Wona Kaka di Sumba Barat. Khusus untuk pahlawan Wona Kaka dikhabarkan beliau di buang ke Nusa Kambangan pada tahun 1913, sedangkan 66 orang kawan seperjuangannya dibuang ke Aceh, Pangkal Pinang, Batavia (Jakarta), dan lain-lain.

Demikianlah pergolakan Majapahit dengan Mahapati Gajah Mada di Sumba hanya samar-samar dikisahkan dari mulut ke mulut. Ditemukan pohon Maja (Sumba : bila) dalam jumlah besar hampir diseluruh pesisir Sumba, lalu dituturkan, bahwa pohon tersebut ditanam oleh Gajah Mada ketika pertama kali mendarat di pulau Sumba.

Di Sabu salah satu pulau di NTT  masih ada upacara keagamaan asli yang disebut pemotong wawi maja (babi untuk menghormati Gajah Mada). Menurut kepercayaan sana, wawi maja adalah babi yang didatangkan dari Majapahit (tempo dulu) untuk ritus keagamaan di Sabu.

Sumba, Nusa Cendana, atau pulau sandlewood, yang kini tinggal legenda karena sisa-sisa cendananya yang terus dicuri dan diseludupkan, merupakan sebuah pulau yang agak terpencil dari gugusan pulau lainnya di NTT. Sebagian besar penduduknya masih beragama Marapu (agama asli).

Dari cerita rakyat dapat dipastikan bahwa dulu Sumba selalu disinggahi perahu/kapal padagang. Bahwa orang Sumba juga diajak untuk berlayar. Diceritakan mereka menyinggahi pelabuhan tujuh kali. Barangkali itulah Sabu, Timor, Flares, Sumbawa, Lombok, Bali dan Jawa. Pada abad ke-16 dikisahkan ada kapal-kapal yang membawa emas dari kepulauan Kuria-Muria dan menukarnya dengan kuda Sandlewood, sehingga sebelum pendudukan Jepang ada bangsawan Sumba yang memiliki emas sampai 100 kg.

Yang menyolok dalam cerita rakyat Sumba adalah adanya dua tokoh yakni, Umbu Ndilu dan Umbu Mada (Sumba Timur),atau Rato Ndelo danRato Mada (Sumba Barat). Rato dan Umbu merupakan gelar bangsawan. Bandingkan ratu dengan empu di Jawa. Kedua tokoh yang merupakan kakak beradik ini (dalam cerita Sumba) selalu muncul dalam sikap perkasa. Gagah, berani, berwibawa, lagi cakap.

Begitu kentalnya nama kedua orang ini hingga diabadikan dalam nama-nama orang Sumba bahkan hingga saat ini. Banyak orang Sumba yang memakai nama Ndilu Hamaratu, Mada Lughu, Palonda Mada, bahkan suku Kodi di Sumba Barat mengabadikan salah satu tokoh dalam marga besar yang disebut Walla Mada (turunan Mada).

Dalam bahasa baitab suku Kodi, kedua tokoh itu selalu disanjung dalam ungkapan,”Ndelo ana Rato, Mada Pera Konda” yang bermakna Ndelo Putra Bangsawaan, Mada Nahkoda Agung. Jika Ndelo atau Ndilu adalah laksamana Nala (dalam kerajaan Majapahit) sudah tentu terjadi salah kaprah menyangkut julukan Mada Pera Konda, yang seharusnya Ndelo Pera Konda agar sesuai dengan profesi Laksamana Nala sebagai panglima perang. Tapi, agak rancu juga, karena di Sumba Timur selain nama Ndilu ada juga Nola yang mendekati Nala.

Pada bulan Februari suku Kodi, merayakan pesta Nale yang ditandai dengan pasola/paholang (perang-perangan) mengingatkan kita pada pasawoan di Jawa. Disini juga ada keraguan jika Nale disamakan dengan Nala, meskipun Nale berasal dari laut yang ditandai dengan datangnya cacing Wawo. Karena Nale ini dianggap Dewi Padi (Biri Koni) yang dapat disamakan  dengan Dewi Sri di Jawa.

Di kecamatan Tabundung Sumba Timur ditemukan nama Majapahit dan Hayam Wuruk yang menurut lafal sana diucapkan sebagai Manjapalit dan Mehanguruk. Keduanya nama orang, karena menurut cerita rakyat Tabundung justru  nenek moyang mereka yang lebih dekat dengan Patih Gajah Mada (apalagi letak daerah mereka dipinggir pesisir yang banyak pohon Maja).

Memang banyak nama orang Sumba yang benar-benar mengingatkan kita pada nama-nama zaman Majapahit. Misalnya, Rangga Wuni dan Rangga Lawe (Sabu ; Raga) di Kodi, nama Rangga sangat dominan, bahkan ada yang bernama Rangga Wuni. Demikianlah nama Pati, Maha Pati (Kodi), Sore (nama zaman Majapahit), Hore/Hora (beberapa dialek Sumba tidak mengenal fonem s). Demikian juga nama Siwa Bala, Langga (ingat Erlangga), Ndara Moro (ingat Dara Jingga). Kata Jawa juga sangat menonjol dalam nama-nama suku Kodi seperti, Pati Jawa, Muda Dawa, Rehi Jawa, Tari Jawa, Biri Jawa. Nama Gajah Mada di abadikan dalam nama-nama Nggaja, Nggading/Nggeding (Sumba Timur), Gaja, Mada (Sabu, Laura). 

Masih banyak hal yang terus mengingatkan kita pada kebudayaan Jawa seperti bentuk tombak, gong (gamelan), rumah joglo dengan soko gurunya, yaigho/zaizo (Jawa : Wayang). Jangan dikata lagi banyak sekali kata Sumba yang sama dengan bahasa Jawa. Bandingkan halaku/laku dengan mlaku (pergi), manduru/mahuru dengan turu (tidur), walu-wolu (delapan), ughi-uwi (ubi), kurang-urang (udang), pira-piro (berapa), manat-manut (ikut), rennge-rongu/rungu (dengar), langgi/langga-legi (manis), wula/wulang-wulan (bulan), ahu-asu (anjing), pena/peina-piye (bagaimana), kalambe/kalembi-klambi (baju), umah-omah (rumah), tallu/tollu-tollu (tiga), patu/pata-papat (empat), malara-lara (sakit).

Dari uraian di atas ada kemungkinan nama Mada dan Nggaja ada kaitannya dengan Gajah Mada, Nola dengan Nala, sedangkan Ndelo/Ndilu mungkin juga ada kaitannya dengan Nala. Manjapalit dan Mahanguruk adalah nama Majapahit dan Hayam Wuruk prabu Majapahit yang memerintah pada tahun 1350 – 1389 dengan nama Rajasanagara.

Kita tidak usah heran karena Sumba juga termasuk dalam wawasan Nusantara yang diperjuangkan oleh Gajah Mada dengan sumpah Amukti Palapa. Bukti otentik dapat dibaca dalam buku Negara Kartagama karya Prapanca Puput;14; “Ikang Sanu-Sanusa Makasar Butuh Banggawi/Kuni Galiyao mwang I. Salaya Sumba  Solot (Solor) Muar/Muah tikang i Wandan Ambwan Athawa Maloko Wanin/Ri Seran Timor maka Dining Angeka Nusatutur.
‹Frans W. Hebi›

 sumber:http://www.maxfm-waingapu.net/berita/154-menelusuri-jejak-mahapati-gajah-mada-di-pulau-sumba.html

Rabu, 18 Januari 2012

7 Pulau Eksotis di Dunia

Pergi ke tempat seperti ini tidaklah rugi. Malah, menjadi pengalaman yang baru tentunya. Di mana saja lokasinya ? Berikut tujuh pulau yang kami kutip dari laman budgettravel.com :

1. Pulau Skomer, Wales
Hampir setengah juta burung seperti puffins, kittiwakes, fulmars, dan razorbills membangun sarang di tebing yang tertutup lumut di cagar alam seluas 721 hektar ini atau tepatnya di daratan Wales.
Hanya 15 menit perjalanan kapal feri Dale Sailing dari kota Martin Haven. Tarif yang ditanggung pun sebesar $ 18 (Rp163 ribu). Namun jika Anda ingin pergi hiking, kunjungi situs welshwildlife.org. Tarif inap untuk 15 orang adalah $ 139 (Rp1,2 juta) per kamar.

2. Kepulauan Jagung, Nikaragua
Kepulauan Jagung (Corn Islands) adalah tempat persembunyian harta bagi negara republik di Amerika Tengah Nikaragua. Bahkan sampai sampai hari ini, para pembajak laut pun masih banyak yang menjarah wisatawan yang sedang berlibur di sana.
Penerbangan pesawat La Costena dilakukan setiap hari dari Managua ke Kepulauan Jagung selama satu jam. Tarif yang dipatok mulai dari $ 164 (Rp1,4 juta). Dan untuk penginapan, bisa ke Hotel Los Delfines (hotellosdelfines.com.ni) dengan biaya inap sebesar Rp447 ribu.
Empat puluh mil dari Kepulauan Jagung masih dihuni oleh orang-orang keturunan Buccaneers. Kepulauan ini sendiri terdiri dari Pulau Jagung Besar (Great Corn) dan Pulau Jagung Kecil (Little Corn).

3. Pulau Kithira, Yunani
Letak pulau ini hanya delapan mil dari ujung semenanjung Peloponnesia. Di sana, Anda dapat melihat gua. Tapi dipertengahan Juli, Kíthira adalah tempat bersantai untuk berkunjung ke pabrik gandum kuno dan kapel Bizantium,
Penginapan di pulau ini terdiri dari hotel kecil dan losmen. Di ibukota Chora terdapat Hotel Margarita yang menyediakan 12 kamar yang menghadap ke laut. Tarif inap mulai dari $ 111 (Rp993 ribu). Info selengkapnya bisa Anda lihat di hotel-margarita.com.

4. Pulau Rottnest, Australia
Rottnest adalah sebuah pulau yang memiliki lebih dari 60 pantai pasir putih. Letaknya persis12 mil dari daratan Australia yang populer, Perth. Info wisata bisa Anda dapatkan di rottnestexpress.com.au.

5. Pulau Fakarava, Polinesia Prancis
Untuk mengantisipasi kunjungan Presiden Perancis Jacques Chirac, jalanan utama di Pulau Fakarava diaspal sekitar tahun 2003-2004. Namun sayangnya dia tidak pernah datang dan juga tidak memberikan alasan apa pun.
Yang jelas, Fakarava tidak kalah menariknya dengan Bora-Bora dan Tahiti yang terletak di sebelahnya. Fakarava adalah rumah bagi sekitar 500 warga. Untuk berwisata ke tempat ini, bisa Anda gunakan layanan Pearl Guest House Havaiki (havaiki.com) dengan tarif Rp357 ribu.
Penerbangan dari Papeete, Tahiti ke Fakarava hanya ada satu kali sehari selama satu jam (airtahiti.com). Harga mulai dari $ 437 atau setara dengan Rp3,9 juta.

6. Pulau Sumba, Indonesia
Dari sekian banyak pulau, salah satunya ada di Indonesia. Ada banyak tempat yang menarik di Pulau Sumba. Untuk kegiatan yang lebih mellow, coba berselancar di pantai selatan dan bermalam di Nihiwatu Resort (nihiwatu.com), tarif inapnya Rp223 ribu.
Jangan lewatkan untuk menyaksikan Festival Pasola, di mana para peserta menombak lawan sambil berkuda. Acara yang sangat meriah ini biasanya diselenggarakan setiap bulan Februari dan Maret.

7. Pulau Amantani, Peru
Amantani adalah sebuah pulau di Danau Titicaca. Tidak ada mobil atau jalan, yang ada hanyalah sebuah teras di lereng bukit selama berabad-abad. Selain itu juga jalan bebatu yang mengarah ke puncak tertinggi, Pachamama (Ibu Bumi) dan Pachatata (Bapa Bumi).
Uniknya lagi di bulan Januari, penduduk lokal melakukan ritual Fiesta de la Santa Tierra di kuil-kuil Pachamama dan Pachatata. Ritual seperti ini terkadang juga dikneal dengan nama Amantani, di mana setiap orang menari sampai larut malam


sumber: (Sumber: MediaIndonesia.com)

Kamis, 12 Januari 2012

kenapa NTT dikatakan Daerah Tertinggal ?

Jika dikaji lebih dalam tentang kondisi Alam Provinsi NTT dari sudut pandang letak Geografs, NTT memiliki luas laut yang cukup besar  dan pantai yang cukup panjang, sehingga memiliki hasil laut yang bisa menjadi mata pencaharian rakyat NTT pada khususnya. Ditambah lagi  dengan keindahan pantai dan alam bawah laut yang bisa menarik para Wisatawan Asing maupun Domestik. Kondisi Alam yang dimiliki daerah NTT juga sangat berpotensi untuk dijadikan lahan bercocok tanam karena memiliki struktur tanah yang sangat subur.Luas hamparan padang sabana yang terdapat di Pulau Sumba juga bisa di manfaatkan sebagai lahan peternakan,sehinggah populasi fauna bisa menambah pendapatan Daerah.
Luas hutan yang cukup besar juga bisa menjadikan NTT sebagai Komoditas penghasil kayu lapis untuk bahan  pembangunan 

Peninggalan para leluhur yakni Kebudayaan, Suku, Ras, Religius, Bahasa, Adat istiadat, Kesenian yang juga memperkaya keanekaragaman Bangsa dan memajukan dunia Parawisata daerah.
Potensi Alam di NTT masih sangat banyak yang tidak bisa dicantumkan satu persatu,yang terletak di berbagai daerah.

Melihat  keaadan realitas seperti ini di NTT,maka yang menjadi pertanyaan saat ini adalah kenapa NTT menjadi daerah yang tertinggal?? 

                                                                                                                  By : Eko Saba Tudung

Selasa, 10 Januari 2012

Pantai Sumba Lebih Indah dari Pantai di Bali ??


Inilah sebagian pengalamanku di Sumba Barat yang menunjukkan keindahannya

melalui Kampung Ratenggaro. Kampung ini istimewa karena terletak pada sebuah
tebing di tepi pantai Ratewoyo. Posisinya menghadap ke lautan lepas dengan
ombak yang besar memecah karang. Lurus ke depan, tak ada lagi daratan hingga tiba di Afrika


Kampung ini semula terletak di tanjung yang letaknya tepat di tepi pantai. Namun

abrasi dan pasang laut menyebabkan air masuk ke rumah, sehingga penduduk
memutuskan untuk memindahkan kampung ke tebing yang lebih tinggi.
Pada bekas kampung di tepi pantai masih tersisa kumpulan kubur batu
megalitikum. Bentuknya berbeda dengan kubur batu lempengan bertiang      seperti di
kota Waikabubak. Kubur batu yang ada di sini terbuat dari batu utuh dengan tinggi
lebih dari dua meter dan dihiasi tulisan serta gambar kuno.


Duduk di samping kubur batu kuno menyaksikan pantai cantik dengan ombak
berdebur, saya mengerti kenapa Sumba begitu dipuja akan kekayaan budaya dan
kecantikan alamnya. Pantai berpasir putih lembut diapit karang dan tebing tinggi
mengingatkan saya pada Tanah Lot di Bali. Tentu saja, pantai ini jauh lebih indah
dan sangat sepi. Sayangnya saya datang saat mendung sehingga tak bisa
menyaksikan senja.



Di pantai itu saya bertemu dengan bapak tua bernama Thomas yang memainkan

alat musik tradisional yang terbuat dari kayu. Petikan dawainya menambah suasana
magis yang rasa rasakan di tempat itu. Kelelahan akibat perjalanan dengan motor
selama dua jam langsung hilang.

Kampung tersebut terletak di daerah Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya. Kodi ada
di ujung barat pulau Sumba. Tempat ini berjarak sekitar 80 kilometer dari kota
tempat saya menginap, Waikabubak. Dilihat di peta jalan ini agak memutar, tapi
inilah jalan yang kondisinya paling baik.


Kali ini saya diantar oleh pemandu bernama Timoteus Pingge, penduduk asli

Sumba. Meskipun dia bilang jalan yang kami lewati kondisinya paling baik, tetap
saja kami harus melewati kubangan dan jalan berlubang. Sepanjang perjalanan
kami bertemu rombongan anak-anak sekolah yang tersenyum ramah dan menyapa


setiap pengendara yang berpapasan dengan mereka. “Siang ibu, siang bapa,” kata
mereka. Awan mendung menggantung sehingga beberapa kali kami harus berteduh
dari hujan. 

Sawah, rumah di tepi jalan dengan kubur batu di halaman, jurang dan hutan
menjadi suguhan yang menakjubkan untuk mata sepanjang perjalanan. Sebelum
berangkat, kami membeli oleh-oleh penduduk desa. Rokok untuk bapak-bapak, sirih
pinang untuk para ibu dan permen untuk anak-anak.


Tinggal di daerah yang begitu cantik tak banyak berpengaruh terhadap

kesejahteraan warga kampung. Hanya segelitir dari mereka yang mencari
penghidupan dari laut. Apalagi, kampung ini hanya terdiri atas lima rumah adat.
Kebakaran yang terjadi empat tahun lalu membakar nyaris seluruh rumah di

kampung. Dari 13 rumah, hanya satu yang selamat.
Kampung adat Sumba memang punya risiko kebakaran yang tinggi. Atap rumah
yang terbuat dari ilalang mudah terbakar pada musim kemarau. Api menjalar
terbawa angin, sehingga kebakaran biasanya memusnahkan seluruh rumah di
kawasan.

Membangun ulang rumah adat tidak murah. Warga kampung bercerita bahwa
sebuah rumah membutuhkan empat tiang utama agar tetap tegak berdiri. "Satu
kayu harganya sama dengan seekor kerbau besar," kata para penghuni kampung.
Itu baru biaya untuk tiang utama, belum menghitung biaya untuk membangun
dinding, lantai dan atap. Selain biaya yang mahal, bahan-bahan yang semula
mudah didapat dari hutan kini semakin sulit dicari.

Selanjutnya saya mengunjungi Kampung Paronabaroro. Kondisi kampung di daerah
ini berbeda dengan kampung yang saya jelajahi di kota Waikabubak sebelumnya.
Letaknya yang terpencil membuat kampung ini masih sangat sederhana.
Kepercayaan Marapu masih dipegang erat oleh para penghuninya.
Perempuan tua mengenakan kain tanpa penutup dada. Pria dan wanita mengunyah
sirih pinang yang membuat ludah mereka berwarna merah kesumba. Kebiasaan ini


dimulai sejak umur belasan dan membuat bibir nampak merah seakan memakai

gincu. Kuda tertambat di samping rumah sebagai lambang status sosial keluarga.

Jalan masuk menuju kampung ini berupa jalan setapak sepanjang kira-kira 4
kilometer. Pada bagian depan kampung terdapat tanah lapang penuh kubur batu
yang lebih baru. Sebagian sudah dimodifikasi dengan menggunakan semen, bukan
lagi batu utuh.

Kubur batu dengan usia lebih tua terletak di bagian tengah kampung. Kompleks
kubur batu mengelilingi sebuah altar tempat pelaksanan upacara adat. Tak
sembarang orang boleh menginjakkan kaki ke tempat yang dianggap keramat itu.
Datanglah ke pulau tanah kelahiranku,, dan selamat mengagumi indahnya
daerahku :)


sumber:http://neydie.student.umm.ac.id/2011/07/28/pantai-sumba-lebih-indah-dari-pantai-di-bali/

Sumba Menolak Tambang Emas


Sumba terancam tak lagi jadi produsen kuda.  Savana, atau padang rumput, tempat ternak itu digembalakan, terancam digusur oleh moda ekonomi baru.  Yakni: pertambangan emas.  Gubernur NTT memberikan izin kepada investor Australia area seluas 330 ribu hektar, atau sepertiga Pulau Sumba. Hanya karena ada batasan luas dalam UU Minerba yang baru, izin itu dipersempit menjadi 99 ribu hektar.  Tetapi rencana untuk mengolah sepertiga pulau menjadi tambang emas, tampaknya masih dipertahankan.


Masyarakat Sumba umumnya menolak rencana pertambangan emas.  Sebab mereka telah terbiasa hidup dari pertanian, dan peternakan.  Protes atas masuknya tambang emas itu terjadi makin intensif.  Beberapa bulan lalu, staf perusahaan  tambang yang melakukan eksplorasi, ditangkap oleh warga. Kantor sementara mereka dirusak oleh warga, yang marah karena merasa tanah mereka diserobot perusahaan.

Ini memang problem klasik : hukum positif melawan hukum adat.  Secara hukum positif, investor Australia itu memang berhak melakukan eksplorasi. Mereka sudah memegang izin gubernur, yang sebelumnya direkomendasi bupati.  Lokasi tambang itu, ada di Sumba Timur, Tengah dan Barat. Sehingga izinnya diterbitkan gubernur.  Walaupun sekarang bupati Sumba Barat, termasuk yang menolak masuknya tambang emas.

Bentrok dengan hukum adat terjadi, karena tanah di Sumba, masuk dalam aturan tentang hak ulayat. Tidak ada sejengkal tanah pun di pulau itu, yang tidak ada pemiliknya.  Beribu tahun, keluarga, turun-temurun sudah mengatur batas pemilikan tanah di sana. Jadi, ketika perusahaan masuk dengan selembar izin gubernur, di lapangan dia tidak menemukan tanah hampa. Tanah itu ada pemiliknya.  Para pemilik tanah itulah yang kemudian marah, ketika tiba-tiba ada orang asing masuk mengambil sampel untuk diuji kandungan emasnya.

Para cendekiawan, tetua adat, tokoh pemuda di Sumba,  sadar tambang emas itu akan menjadi bencana. Kalau dilihat kepadatan penduduk, tiap satu hektar ada 1 orang Sumba, maka rencana itu akan mengakibatkan 300 ribu orang kehilangan tempat tinggal. Belum lagi mata pencaharian. Mereka akan terasing dari pertambangan, sebab kebisaanya adalah bertani.  Pengalaman dari Timika, Papua, Sumbawa, NTB dan tempat tempat tambang lain di Kalimantan; warga lokal mengalami pemiskinan yang dahsyat.  Hanya investor yang diuntungkan dari pertambangan emas, dan sedikit kroni-kroninya.

Jadi, sudah tepat langkah warga Sumba menolak pertambangan.  Sebab sekali dibiarkan masuk,  eksploitasi tambang emas itu, akan meninggalkan kerusakan yang tak dapat diperbaiki.  Lagipula, kita toh tak bisa minum emas, ketika sedang kehausan.

 sumber: http://www.kbr68h.com/editorial/54-tajuk/7294-sumba-menolak-tambang-emas